Istana Al Mukaramah merupakan istana yang terletak di wilayah pertemuan Sungai Melawi dan Sungai Kapuas, di kabupaten Sintang.
Kerajaan Sintang ini didirikan oleh Demong Irawan pada abad ke-13 (+ 1262 M) dan sampai saat ini masih kokoh berdiri serta dijadikan obyek wisata.
Pendirian kerajaan baru ini ditandai dengan penanaman Batu Kundur oleh Demong Irawan, yaitu batu berbentuk phallus yang hingga kini masih dikeramatkan oleh masyarakat sekitar.
![]() |
| Keraton Kabupaten Sintang |
Batu Kundur tersebut saat ini berada tepat di depan Kompleks Istana Al Mukarrammah Kesultanan Sintang.
Demong Irawan atau yang biasa dikenal dengan julukan Jubair Irawan I merupakan keturunan kesembilan Aji Melayu, seorang penyebar agama Hindu dari tanah Jawa yang menyebarkan agama Hindu di kawasan Sintang dan sekitarnya.
Tokoh utama dibalik berdirinya Kesultanan Sintang adalah Aji Melayu. Pada abad ke-4 Masehi ia pergi daerah Kujau, Tanah Balang di Semenanjung Malaka, yang merupakan pusat kerajaan Hindu pada masa itu.
Dari Kujau lalu ia pindah ke Desa Tabelian Nanga, Sepauk sampai menikahi seorang wanita bernama Putung Kempat dan dikaruniai anak yang bernama Dayang Lengkong.
Kepulangan Aji Melayu dari perantauan ternyata membawa ajaran Hindu ke daerah kelahirannya ini. Sejak saat itulah berdiri kerajaan Hindu di Sepauk.
Bukti sejarah berdirinya kerajaan Hindu terlihat dari benda peninggalan sejarah berupa patung yang terbuat dari perunggu berbentuk Dewa bertangan empat yang diyakini sebagai Siwa (Dewa agama Hindu) di Desa Temian Empakan, Kecamatan Sepauk.
Pada abad ke-XIII, Raja Sintang saat itu, Demang Irawan yang merupakan keturunan kesembilan Aji Melayu, memindahkan pusat kesultanan dari Sepauk ke Senatang (Sintang).
Ia memilih lokasi di persimpangan antara Sungai Melawi dan Sungai Kapuas. Kekuasaannya pada masa itu mencakup Sepauk dan Tempunak.
Asal mula beralih ke kerajaan Islam
Raja Abang Tembilang atau Abang Pencin yang bergelar Pangeran Agung merupakan penguasa paling akhir Kerajaan Sintang Hindu karena Ia kemudian menganut agama Islam.
Setelah itu rakyat di kerajaan Sintang yang sebelumnya menganut agama Hindu dan Animisme berduyun -duyun memeluk agama Islam.
Sejak itu dimulailah babak baru Kesultanan Sintang . Setelah Pangeran Agung wafat, putranya yang bernama Pangeran Tunggal dinobatkan sebagai Raja di Kerajaan Sintang yang ke XVIII.
https://youtu.be/UdJ6FHmuu7c

Tidak ada komentar:
Posting Komentar