Jumat, 11 Oktober 2019

Sejarah Lawang Kuari Goa Bersejarah Kabupaten Sekadau


Lawang Kuari adalah satu diantara objek wisata di Kabupaten Sekadau. 

Nama Goa Lawang Kuari kian menjadi tenar ketika Kabupaten Sekadau terbentuk pada tahun 2003 silam. Sejak itu pula Lawang Kuari menjadi julukan untuk Kabupaten Sekadau.

Goa Lawang Kuari berada di Dusun Kelilit Desa Seberang Kapuas Kecamatan Sekadau Hilir Kabupaten Sekadau Provinsi Kalimantan Barat Goa ini berada di tebing Sungai Kapuas.


Goa Lawangan Kuari



Ada tiga goa berjejer (lubang). Konon katanya goa pertama paling kanan (hilir) milik suku Dayak, Bagian tengah milik suku Senganan (Melayu), dan bagian kiri (Hulu) milik suku China (Tionghoa).
Tidak semua orang bisa masuk melewati ketiga lubang kecil itu. Berdasarkan cerita dari mulut ke mulut dipercaya jika lubang goa semakin dalam dan kian melebar hingga pada kedalaman tertentu bisa seukuran tinggi manusia. Untuk masuk ke dalam perut goa harus melalui berbagai rintangan berat. Mulai dari tiarap, berjalan jongkok, barulah sampai ke dalam perut goa yang luas. Di dalam sana terbentang sebuah danau dengan air yang sangat jernih.
Goa Lawang Kuari dikunjungi warga baik dari dalam maupun luar Kabupaten Sekadau sebagai tempat wisata alam dengan berbagai keunikannya. Tapi warga juga menganggap goa ini menyimpan aura mistis. Tak heran banyak yang ke goa dengan hajat atau niat tertentu hingga bagi keyakinan tertentu dianggap sebagai syirik. 
Masyarakat Sekadau percaya kalau Goa Lawang Kuari sebagai tempat persembunyian Pangeran Agung dari Kerajaan Sekadau. Bersama para pengikutnya, Pangeran Agung dikisahkan meninggalkan istana di Sungai Barak, Desa Mungguk, karena selisih paham dengan raja yang berkuasa kala itu. Sang pangeran dan pengikutnya pun diburu prajurit istana. Untuk menghilangkan jejak dari kejaran, Pangeran Agung menaburkan abu yang yang menyelimuti semua pengikutnya itu kemudian berubah menjadi batu.
Sumber : YouTube Mata Khatulistiwa https://youtu.be/OZ38pt00O_c



Senin, 07 Oktober 2019

Istana Al Mukaramah

Istana Al Mukaramah merupakan istana yang terletak di wilayah pertemuan Sungai Melawi dan Sungai Kapuas, di kabupaten Sintang. 

Kerajaan Sintang ini didirikan oleh Demong Irawan pada abad ke-13 (+ 1262 M) dan sampai saat ini masih kokoh berdiri serta dijadikan  obyek wisata. 

Pendirian kerajaan baru ini ditandai dengan penanaman Batu Kundur oleh Demong Irawan, yaitu batu berbentuk phallus yang hingga kini masih dikeramatkan oleh masyarakat sekitar. 

Keraton Kabupaten Sintang 


Batu Kundur tersebut saat ini berada tepat di depan Kompleks Istana Al Mukarrammah Kesultanan Sintang. 

Demong Irawan atau yang biasa dikenal dengan julukan Jubair Irawan I merupakan keturunan kesembilan Aji Melayu, seorang penyebar agama Hindu dari tanah Jawa yang menyebarkan agama Hindu di kawasan Sintang dan sekitarnya.

 Tokoh utama dibalik berdirinya Kesultanan Sintang adalah Aji Melayu. Pada abad ke-4 Masehi ia pergi daerah Kujau, Tanah Balang di Semenanjung Malaka, yang merupakan pusat kerajaan Hindu pada masa itu.

 Dari Kujau lalu ia pindah ke Desa Tabelian Nanga, Sepauk sampai menikahi seorang wanita bernama Putung Kempat dan dikaruniai anak yang bernama Dayang Lengkong.

Kepulangan Aji Melayu dari perantauan ternyata membawa ajaran Hindu ke daerah kelahirannya ini. Sejak saat itulah berdiri kerajaan Hindu di Sepauk. 

Bukti sejarah berdirinya kerajaan Hindu terlihat dari benda peninggalan sejarah berupa patung yang terbuat dari perunggu berbentuk Dewa bertangan empat yang diyakini sebagai Siwa (Dewa agama Hindu) di Desa Temian Empakan, Kecamatan Sepauk. 

Pada abad ke-XIII, Raja Sintang saat itu, Demang Irawan yang merupakan keturunan kesembilan Aji Melayu, memindahkan pusat kesultanan dari Sepauk ke Senatang (Sintang). 

Ia memilih lokasi di persimpangan antara Sungai Melawi dan Sungai Kapuas. Kekuasaannya pada masa itu mencakup Sepauk dan Tempunak.

Asal mula beralih ke kerajaan Islam
Raja Abang Tembilang atau Abang Pencin yang bergelar Pangeran Agung merupakan penguasa paling akhir Kerajaan Sintang Hindu karena Ia kemudian menganut agama Islam. 

Setelah itu rakyat di kerajaan Sintang yang sebelumnya menganut agama Hindu dan Animisme berduyun -duyun memeluk agama Islam.

Sejak itu dimulailah babak baru Kesultanan Sintang . Setelah Pangeran Agung wafat, putranya yang bernama Pangeran Tunggal dinobatkan sebagai Raja di Kerajaan Sintang yang ke XVIII.

https://youtu.be/UdJ6FHmuu7c

Minggu, 06 Oktober 2019

Nasib Petani yang terabaikan


Selama ini kita dengan tenang menyantap makanan nikmat yang tersaji. Jika ditelusuri, dari setiap komponen makanan yang tersaji di piring berasal dari orang-orang yang bekerja keras, salah satunya adalah Petani.


Sayangnya, saat jumlah bahan pangan tak lagi memadai bersantap mungkin tak lagi tenang. Badan Pusat Statistik pada 2013 mengungkapkan bahwa 65 persen jumlah petani di Indonesia kini berusia 45 tahun ke atas dengan produktivitas relatif rendah.
Sementara Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, mengungkapkan hanya sekitar empat persen anak muda usia 15-23 tahun yang tertarik bekerja jadi petani.
Fenomena enggan jadi petani ini terjadi di pedesaan. Banyak anak muda memilih pindah ke kota bekerja di sektor informal atau industri kecil menengah, sisanya memilih bekerja di sektor produksi. Pekerjaan di sektor produksi dipandang lebih potensial menjamin kesejahteraan mendatang dibanding menjadi petani oleh anak muda.
"Memang banyak yang beranggapan kalau merantau hasilnya lebih pasti, setiap bulan ada hasil. Kalau di sawah kadang panen kadang tidak, sering gagal panen, kena banjir, kena hama," kata petani asal Lendah, Kulon Progo, Yogyakarta, Mukidir (43) ditemui di acara peluncuran Program Petani Muda, Bango, Cerita Rasa, Jakarta, Rabu (25/9/2019).
Saat muda Mukidir bercerita ia lebih memilih bekerja di kota sebagai buruh pabrik. Hingga akhirnya ia terpanggil untuk pulang ke kampung halaman, mengolah tanah warisan orang tua dengan segala suka dan duka yang ia ceritakan.
"Akhirnya pulang, rela pulang," kata Mukidir.
Kini ia rajin membawa dua orang anaknya yang berusia empat dan 11 tahun ke sawah, sekedar memperkenalkan proses kerjanya sebagai petani. Mukidir sadar, harus ada yang meneruskan profesi petani. Sama seperti dirinya yang meneruskan profesi orang tuanya.
"Boleh anak saya jadi petani, tidak apa-apa. Kalau bukan mereka, siapa lagi yang meneruskan?" pungkas Mukidir.
Bango salah satu perusahaan swasta yang melihat kurangnya regenerasi di kalangan petani. Bekerja sama dengan The Learning Farm Indonesia, Bango meluncurkan Program Petani Muda.
"Prioritas Bango menjaga kelezatan untuk terus ada. Untuk merasakan kecap yang lezat erat hubungannya dengan Petani. Bahan baku harus terus ada, untuk itu penting adanya regenerasi petani supaya tidak hilang dan menghasilkan bahan terbaik untuk makanan Indonesia lezat," jelas Senior Brand Manager Bango, Nando Kusmanto di acara peluncuran Program Petani Muda, Bango, Cerita Rasa, Jakarta, Rabu (25/9/2019).
Ada 25-40 orang anak muda yang akan diberi pelatihan intensif dari The Learning Farm Indonesiaselama 100 hari. Sejauh ini, anak muda yang dipilih berasal dari mitra petani kedelai hitam Mallika di Jawa Tengah.
Nando mengatakan anak muda ini bukan cuma diberi pelatihan bertani secara umum, tetapi juga program pertanian berkelanjutan.
"Petani berkelanjutan memiliki prinsip proses bertani ramah lingkungan supaya memberi dampak seminimal mungkin dan menghasilkan produksi yang efisien, produktif, dan kompetitif," jelas Nando.
Executive Director The Learning Farm Indonesia, Nona Pooroes Utomo menjelaskan peserta Program Petani Muda akan mendapat 60 persen materi pertanian yang terbagi menjadi pengetahuan tanah, budidaya tanaman-perikanan dan ternak, pemupukan, pengendalian hama, dan analisa usaha tanam.
Sisa 40 persen lain berfokus pada mengempangan soft skill seperti manajemen waktu dan keuangan, wisarausaha, gaya hidup sehat, Bahasa Inggris, komputer, dan komunikasi.
"Belajar bertani bagi anak muda punya lebih banyak manfaat, khususnya untuk karakter mereka. Saat bertani anak muda akan belajar mengenai proses, kesabaran dan ketepatan dari apa yang mereka lakukan untuk menghasilkan panen yang berkualitas," jelas Nona.
Untuk mendukung Program Petani Muda, Bango juga meluncurkan kemasan khusus Cita Mallika. Kemasan khusus ini dirancang oleh desainer Didiet Maulana dan kisah inspiratif para petani dari Dewi Lestari. Setiap kemasan akan berikan pelatihan tani untuk pemuda Indonesia.
Program Petani Muda diharapkan dapat terus berlanjur setelah gelombang pertama berisi 25-40 orang anak muda.
"Jangan sungkan dan jangan pasrah, kita harus tetap maju dan berkomitmen. Lahan sudah mulai terkikis, kita harus terus meningkatkan hasil walau lahan sudah mulai habis," pesan petani mallika, Rusdiyanto dari Lendah, Kulon Progo pada para rekannya, petani yang tua maupun muda.